BOGORPLUS.ID - Kawasan Kampung Pamucatan, Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, menjadi sorotan publik setelah pemandangan jalan raya di sana tampak memutih seperti tertutup salju. Fenomena visual yang menarik perhatian ini menyebar luas di berbagai platform media sosial.

Lapisan putih yang menyelimuti permukaan jalan, dinding bangunan, hingga vegetasi di tepi jalan nasional tersebut bukanlah fenomena alam biasa. Lapisan tersebut merupakan akumulasi debu pekat yang berasal dari aktivitas pabrik pengolahan batu kapur di sekitar area tersebut.

Debu partikel halus ini diketahui menempel secara signifikan pada semua jenis kendaraan yang melintas, baik mobil maupun sepeda motor. Kondisi lingkungan yang diselimuti debu tebal ini telah menimbulkan berbagai keluhan serius dari masyarakat pengguna jalan maupun warga setempat.

Seorang pengguna jalan bernama Rizaldi yang sering melintasi jalur tersebut mengungkapkan bahwa debu cenderung lebih mudah menempel saat musim kemarau. "Kebetulan saya agak sering lewat sini, jadi memang kondisinya seperti ini. Apalagi sekarang musim kemarau, jadi lebih nempel. Beda kalau musim hujan, mending bisa kebawa air," kata Rizaldi.

Rizaldi juga menekankan perlunya perlindungan ekstra bagi pengendara sepeda motor saat melintasi kawasan tersebut. Ia menjelaskan bahwa tanpa pelindung seperti helm berkaca dan masker, mata bisa terasa sangat perih akibat paparan debu kapur yang bercampur dengan debu dari truk pengangkut batu dan pasir. "Kalau polos tanpa kacamata atau masker, perig ke mata. Kan debu kapur, ditambah di sini banyak truk batu sama pasir. Kalau lagi pakai mobil ya tenang, enggak enaknya kalau lagi pakai motor," tambah Rizaldi.

Dampak buruk masalah polusi udara ini juga dirasakan langsung oleh warga lokal, terutama terkait kesehatan pernapasan. Hidayat, seorang warga setempat, menceritakan bahwa anaknya kerap mengalami gangguan pernapasan akibat kualitas udara yang sangat menurun di lingkungan mereka.

Hidayat menambahkan bahwa kondisi ini bahkan memaksanya mengambil langkah drastis demi kesehatan anaknya. "Karena debunya tebal, jadi anak itu sering sesak napas. Namanya anak juga kan main di luar ya, akhirnya saya pesantren kan saja biar lingkungannya bersih dan sehat. Belum lagi saya suka gatal-gatal, karena kan tiap hari kena debunya," ungkap Hidayat.

Kawasan Citatah dan Gunungmasigit memang dikenal sebagai pusat industri pengolahan batuan tambang, termasuk batu kapur dan marmer, yang menjadi bahan baku berbagai industri seperti semen dan material bangunan. Sektor pertambangan ini merupakan tumpuan ekonomi bagi ribuan warga yang telah bekerja di sana selama bertahun-tahun.

Salah seorang pekerja tambang bernama Rochyadi mengonfirmasi bahwa aktivitas operasional sempat terhenti sebelum akhirnya kembali berjalan normal. "Selama ini saya cuma bekerja di tambang kapur. Tahun lalu sempat ditutup operasional sama pemerintah, sekarang sudah berjalan normal," ujar Rochyadi.