bogorplus.id - Perselingkuhan merupakan salah satu tantangan terberat dalam sebuah hubungan berkomitmen. Selain mencederai kepercayaan dan kesetiaan, tindakan ini dapat memicu dampak psikologis serius bagi korban, mulai dari kesedihan mendalam, gangguan kecemasan, hingga depresi. Namun, apa sebenarnya yang mendorong seseorang untuk mengkhianati pasangannya?
Secara psikologis, alasan di balik perselingkuhan sangatlah kompleks. Berdasarkan perspektif ilmu psikologi, berikut adalah delapan faktor utama yang kerap menjadi pemicu seseorang melakukan perselingkuhan:
1. Memudarnya Rasa Cinta
Defisit emosional dalam hubungan sering kali menjadi celah masuknya orang ketiga. Survei yang dirilis oleh Psychology Today menunjukkan bahwa 77 persen responden memilih berselingkuh karena merasa rasa cinta terhadap pasangan resminya telah berkurang.
2. Kebutuhan akan Variasi
Beberapa orang berselingkuh murni karena alasan variasi atau reaksi terhadap kebosanan dalam hubungan jangka panjang. Secara statistik, alasan ini lebih sering ditemukan pada pria yang mencari sensasi baru di luar hubungan utama mereka.
3. Merasa Diabaikan
Kurangnya perhatian dan validasi dari pasangan dapat mendorong seseorang mencari kenyamanan di tempat lain. Berbeda dengan poin sebelumnya, alasan merasa diabaikan ini lebih banyak dikemukakan oleh perempuan sebagai pemicu ketidaksetiaan.
4. Faktor Situasional
Perselingkuhan tidak selalu direncanakan. Faktor eksternal seperti pertemuan yang tidak terduga saat dinas luar kota, reuni dengan teman lama, atau pengaruh lingkungan seperti di bar, dapat menjadi pemicu saat seseorang berada dalam situasi yang mendukung.
5. Meningkatkan Harga Diri
Bagi sebagian orang, mendapatkan perhatian dari orang baru dianggap sebagai cara untuk memuaskan ego dan meningkatkan rasa percaya diri. Mereka merasa lebih berharga saat mengetahui bahwa mereka masih memiliki daya tarik di mata orang lain.
6. Kemarahan dan Balas Dendam
Dalam beberapa kasus, perselingkuhan digunakan sebagai senjata untuk menghukum pasangan. Motif ini biasanya didasari oleh rasa marah atau keinginan untuk membalas dendam atas kekecewaan yang dialami sebelumnya.
7. Kurangnya Komitmen
Rendahnya komitmen dan keterikatan emosional terhadap pasangan membuat seseorang lebih mudah goyah. Tanpa landasan komitmen yang kuat, individu cenderung tidak merasa bersalah saat melanggar kesepakatan hubungan.
