BOGORPLUS.ID - Kondisi geografis yang menantang di kawasan perbatasan Apokayan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, dilaporkan menyebabkan warga setempat kesulitan mengakses pasokan elpiji bersubsidi dari pemerintah. Akibat kendala distribusi ini, masyarakat terpaksa mencari sumber energi alternatif, yaitu elpiji yang berasal dari negara tetangga, Malaysia.

Peristiwa ini terjadi pada Kamis, 25 Juni 2026, di mana warga dihadapkan pada kelangkaan pasokan elpiji 3 kilogram yang seharusnya menjadi hak mereka. Keterbatasan akses ini kemudian menciptakan pasar gelap dengan harga elpiji domestik melonjak drastis hingga mencapai angka fantastis Rp150.000 per tabung.

Masalah utama yang menghambat distribusi elpiji bersubsidi adalah kondisi geografis yang ekstrem serta minimnya infrastruktur transportasi di wilayah perbatasan tersebut. Saat ini, rantai distribusi resmi dari agen penyalur pemerintah masih terpusat secara eksklusif di area perkotaan Kabupaten Malinau.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Daerah Kabupaten Malinau, Erly Sumiati, membenarkan situasi ini. Ia menyatakan bahwa penyaluran elpiji bersubsidi belum menjangkau wilayah Apokayan.

"Di daerah Apokayan memang kita belum ada penyaluran elpiji ke sana. Makanya mereka menggunakan yang Malaysia punya," ujar Erly Sumiati, Kabag Perekonomian dan SDA Setda Malinau.

Menurut penjelasan Erly Sumiati, distribusi elpiji di Malinau dikelola oleh dua agen resmi, yaitu PT Naila dengan 26 pangkalan dan PT Karyataman Nixon dengan 10 pangkalan. Namun, seluruh pangkalan tersebut hanya beroperasi di kecamatan yang berada di wilayah perkotaan.

"PT Naila ini ada 26 pangkalan, tetapi pangkalan itu ada di wilayah perkotaan di Kabupaten Malinau. Nah, kalau PT Karyataman Nixon ini ada 10 pangkalan, itu di wilayah kecamatan yang ada di perkotaan juga. Karena sulit transportasi untuk pengiriman ke sana (Apokayan)," papar Erly Sumiati, Kabag Perekonomian dan SDA Setda Malinau.

Warga di Desa Long Nawang dan Desa Nawang Baru, Kecamatan Kayan Hulu, menjadi pihak yang paling merasakan dampak kesulitan ini. Mereka mengeluhkan tingginya harga elpiji Indonesia yang tidak terjangkau oleh daya beli masyarakat setempat.

Amay Christo, seorang warga Desa Nawang Baru, menjelaskan bagaimana harga elpiji lokal melambung tinggi karena biaya angkut yang besar. "Di Desa Long Bagun harganya sudah Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu. Ongkos antarnya sampai ke Apokayan itu Rp 50 ribu untuk satu tabung. Jadi harga jualnya sampai di sini menjadi Rp 150 ribu," ungkap Amay Christo, warga Desa Nawang Baru.