bogorplus.id - Hujan yang mengguyur Desa Rengajajar, Cigudeg, Kabupaten Bogor, Sabtu (18/4/2026), perlahan berubah menjadi ancaman. 

Derasnya air Kali Tipar seketika menghantam apa saja yang dilaluinya, termasuk menerjang kontrakan yang dihuni kelompok pedagang cuanki. Luluh lantak.

Bagi Angga (25), salah satu pedagang cuanki, peristiwa itu tidak sekedar menghanyutkan 10 pintu kontrakan tempat dia dan beberapa rekannya biasa mengambil jeda istirahat sekaligus titik awal mencari rezeki, tapi juga harapan. 

Pria asal Garut tersebut hanya bisa pasrah. 10 gerobak yang biasa mereka gunakan untuk mengais rezeki juga ikut tersapu air bah. 

Bagi Angga dan rekannya sesama Asgar (asli Garut), gerobak bukan sekedar alat berjualan. Lebih dari itu, simbol perjuangan. 

Mereka menyusun mimpi, menyambung hidup di tanah orang sejak hampir satu dekade lalu. Saban hari, mereka mendorong gerobak menyusuri jalanan Kabupaten Bogor, bagian barat.

Selisih modal dan hasil jualan cuanki tidaklah seberapa. Meski demikian, hasil yang didapat itulah yang mencukupi bertahan hidup. Dan sedikit demi sedikit menabung harapan.

Kerugian akibat bencana alam tersebut ditaksir mencapai Rp15 juta. Tentunya jumlah itu tidaklah sedikit bagi mereka yang mengandalkan penghasilan harian.

Dalam kondisi serba terbatas, Angga dan rekan rekannya dihadapkan pada pilihan yang tak mudah yaitu bertahan tanpa kepastian, atau pulang untuk memulai dari nol.