Pemetaan Tutupan Lahan Sumatera dan Sulawesi: Upaya Menuju Satu Peta Indonesia
- account_circle Putri Rahmatia Isnaeni
- calendar_month Rab, 30 Jul 2025
- comment 0 komentar

Dikusi Publik RECOFTC Indonesia Mengenai Perubahan Tutupan Lahan Sumatera dan Sulawesi (Foto: Bogorplus.id)
bogorplus.id – RECOFTC bekerja sama dengan Universitas Riau dan Universitas Hasanuddin untuk mengembangkan data visual yang terbuka, tepat, dan mudah diakses tentang perubahan penutupan lahan di Sumatera dan Sulawesi. Kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 16 Januari hingga 30 Juni 2025.
Dengan hasil pemetaan tersebut, RECOFTC Indonesia mengadakan diskusi publik yang bertemakan “Mendorong Terwujudnya Tata Kelola Hutan di Lingkungan yang Berkeadilan Melalui Ketersediaan Data dan Informasi Peta”. Acara ini diadakan di Hotel Ibis Bogor pada Rabu, 30 Juli 2025.
Acara ini juga dihadiri oleh berbagai narasumber, termasuk Wafiq Warismi sebagai Peneliti RECOFTC Indonesia, Fuad Hasan dari Direktorat Hukum dan Regulasi, Dra. Imelda, M. AP yang menjabat sebagai Direktur Produk Hukum Daerah di Kementerian Dalam Negeri (Mendagri) dari PPATK, Rambo selaku Direktur Sawit Watch, dan Yoga Kipli sebagai perwakilan dari PB AMAN. Tiga Puluh Media juga berpartisipasi dalam diskusi ini.
Gamma Galudra yang menjabat sebagai Direktur RECOFTC Indonesia menjelaskan bahwa kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas dalam menganalisis perubahan lahan serta memanfaatkan peta berbasis teknologi terkini. Ini sejalan dengan kebijakan Satu Peta yang diimplementasikan oleh pemerintah. Tanpa peta yang akurat, pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan akan kesulitan dalam melakukan perlindungan dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan.
Wafiq sebagai Peneliti di RECOFTC Indonesia menyatakan bahwa program ini bertujuan untuk mengembangkan dataset referensi terbuka dengan anotasi “wall-to-wall” yang berbasis pada citra satelit dengan resolusi tinggi. Data ini mencakup area dengan variasi karakteristik bentang lahan sawit yang ada di Riau dan Sulawesi Barat.
Ada tiga keuntungan yang dapat diperoleh dari program ini, antara lain peta tutupan lahan yang lebih tepat dan transparan, peningkatan kapasitas AI geospasial di Indonesia yang mendukung inklusi petani kecil serta pengambilan keputusan yang berbasis data, serta validasi dan benchmarking model AI yang dapat diakses secara terbuka dan direplikasi.
Salah satu pilar penting dalam pembangunan berkelanjutan di Indonesia adalah tata kelola hutan dan lingkungan yang adil. Ketersediaan data dan informasi geospasial yang dapat dipercaya, tepat, dan mudah diakses merupakan syarat utama untuk memastikan keputusan yang transparan dan akuntabel, terutama dalam pengelolaan sumber daya alam.
- Penulis: Putri Rahmatia Isnaeni


