Unpak dan GPSN Pamerkan 300 Golok Bersejarah, Dorong Pengakuan UNESCO 2027
- account_circle Putri
- calendar_month 14 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Foto: Bogorplus.id
bogorplus.id – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Pakuan (Unpak) Bogor Bersama komunitas Pelestari Golok Pedang Sepuh Nusantara (GPSN) mengadakan pameran pusaka dan diskusi budaya yang menampilkan ratusan jenis golok bersejarah di Gedung Universitas Pakuan, Kota Bogor, Sabtu (14/2/2026).
Rektor Universitas Pakuan Bogor, Prof. Didik Notosudjono, menyatakan bahwa acara ini merupakan bagian dari upaya memperkuat dukungan akademik khususnya dari FISIB, Unpak, untuk mendorong pengakuan golok yang erat kaitannya dengan budaya Sunda dan Nusantara sebagai warisan budaya tak benda kepada UNESCO.
Ia menyebutkan bahwa usaha untuk melestarikan golok selama ini sangat mengesankan dan harus ditingkatkan melalui penelitian dan kajian budaya, agar nantinya dapat berhasil diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO.
“Universitas Pakuan sangat mendukung kegiatan ini. Ini menjadi suatu hal yang menarik ya untuk mengembangkan, paling enggak itu, untuk penelitian, kajian-kajian dekat budaya Sunda dan juga Nusantara. Golok ini akan penting sekali dan harus kita perjuangkan ya sampai ke level UNESCO,” ucap Didik di Universitas Pakuan Kota Bogor, Sabtu (14/2/2026).
Didik juga menekankan pentingnya digitalisasi dalam era perkembangan informasi yang pesat agar tradisi golok apat dikenali secara luas hingga ke tingkat internasional.
Ia berpendapat bahwa golok, yang merupakan tradisi kuno yang terhubung dengan budaya Sunda dan Nusantara, harus dikampanyekan untuk diakui oleh UNISCO. Ia juga menekankan bahwa dukungan dari lembaga pendidikan merupakan salah satu elemen penting dalam proses ini.
“Kita program studi terpaket dengan budaya, jadi link and match. Golok merupakan budaya yang kita lestarikan, pusaka dari zaman lama sekali. Dengan kajian-kajian nanti kita lestarikan sejarahnya, bagaimana sejarahnya, termasuk pengembangan pamor-pamornya,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Golok Pedang Sepuh Nusantara (GPNS) Ki Gatut Santa, menyampaikan bahwa hingga saat ini pusaka Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO baru keris.
Oleh sebab itu, mereka terus berusaha agar golok yang berkaitan dengan budaya Sunda dan Nusantara juga mendapatkan pengakuan yang sama di tingkat global. Ia menargetkan agar pada tahun 2027 golok bisa secara resmi diakui sebagai warisan tak benda oleh UNESCO.
“Golok dulu menjadi alat pertahanan pangan, kemudian menjadi alat pertahanan, dan sekarang menjadi pusaka. Insya Allah tahun 2027 menjadi bagian golok untuk UNESCO nanti,” ujarnya.
Syarat untuk menjadi warisan budaya tak benda UNESCO tidak harus terikat pada koleksi fisik. Menurutnya, yang dinilai adalah nilai filosofi dan literasi yang menyertai.
Dalam warisan tak benda, terdapat makna, kearifan, serta kajian yang menjadi bagian dari literasi budaya itu.
“Semua kelengkapan sudah kami penuhi. Artinya kami membangun komunitas, mendata kembali para pelestari. Penempa-penempa golok sekarang sudah generasi ke-9, ada yang ke-7. Artinya warisan dari nenek moyang itu terus dilanjutkan. Jadi pelestarian ini berlanjut sampai generasi muda sekarang,” ucapnya.
Pada pameran kali ini, sekitar 300 golok terbaik dari berbagai periode dipamerkan. Beberapa di antaranya berasal dari periode tahun 800, masa Singosari dan Panjuruan, serta masa Demak sekitar tahun 1600.
Melalui pameran dan diskusi budaya ini, dukungan akademik dari Unpak Fakultas ISIB diharapkan dapat menguatkan upaya golok menuju pengakuan sebagai warisan budaya tak benda UNESCO.
- Penulis: Putri








