Puisi, Calung, dan Duka : Refleksi Akhir Tahun Desa Ciadeg Gaungkan Suara Alam
- account_circle Sandi
- calendar_month Jum, 2 Jan 2026
- comment 0 komentar

Musikalisasi puisi yang dibawakan Pemuda Benalu. Foto : bogorplus.id
bogorplus.id– Warga Kampung Raweuy, Desa Ciadeg, menutup tahun dengan cara berbeda. Tanpa kembang api dan pesta seremonial, mereka memilih refleksi akhir tahun melalui seni budaya dan hiburan rakyat yang menyuarakan kepedulian terhadap alam dan kemanusiaan.
Puncaknya, musikalisasi puisi yang dibawakan Pemuda Benalu mengubah panggung desa menjadi ruang renung dan empati bersama.
Di hadapan warga, Pemuda Benalu tersebut membawakan musikalisasi puisi bertema lingkungan berjudul “Pentingnya Menjaga Alam Tanah Sunda”.
Perpaduan instrumen tradisional dan modern mengiringi bait-bait puisi yang menegaskan relasi manusia dengan tanah serta tanggung jawab menjaga keseimbangan alam.
Penampilan itu tidak sekadar menghibur, tetapi mengajak penonton berhenti sejenak untuk merenung.
“Puisi ini kami persembahkan sebagai pengingat bahwa alam bukan objek eksploitasi, melainkan rumah yang harus dijaga bersama,” ujar salah satu perwakilan Pemuda Benalu di sela penampilan.
Pada momen yang sama, mereka juga menyampaikan duka cita atas bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, khususnya Aceh.
Ungkapan solidaritas itu menguatkan pesan bahwa kerusakan alam berdampak langsung pada kehidupan manusia. Panggung hiburan rakyat pun berubah menjadi ruang doa dan kepedulian lintas daerah.
Selain musikalisasi puisi, refleksi akhir tahun ini menampilkan beragam kesenian tradisional, seperti calung, tarawangsa, karinding, tarian rakyat, hingga pencak silat Cimande.
Calung menjadi sorotan karena dibawakan langsung oleh para pemuda desa. Di tangan generasi muda, bunyi calung kembali menggema menandai upaya pelestarian kesenian yang kian jarang dimainkan.
Sementara itu, Produser film dokumenter Mulih ka Jati, Mulang ka Asal sekaligus pegiat budaya, Aban Sudrajat, menegaskan bahwa kegiatan ini sengaja dirancang sebagai ruang kesadaran kolektif, bukan sekadar tontonan.
“Budaya, seni, dan alam itu satu kesatuan. Musikalisasi puisi, calung, hingga film Mulih ka Jati adalah cara kami mengingatkan bahwa jati diri tidak boleh tercerabut dari tanah dan nilai. Ketika alam rusak, budaya ikut kehilangan rumahnya,” kata Aban.
Menurutnya, keterlibatan pemuda menjadi kunci utama keberlanjutan budaya dan kesadaran ekologis.
“Harapan ada pada pemuda. Saat mereka berani bersuara lewat seni puisi, musik, dan tradisi itu tanda bahwa budaya belum kalah oleh zaman,” tambahnya.
Refleksi akhir tahun ini juga menggerakkan ekonomi warga. Pelaku UMKM lokal Desa Ciadeg turut meramaikan acara dengan menghadirkan kuliner tradisional, kerajinan tangan, dan produk olahan warga.
Aktivitas jual beli berlangsung sepanjang acara dan memberi dampak nyata bagi pendapatan masyarakat.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Desa Ciadeg menegaskan bahwa hiburan rakyat dapat menjadi medium kesadaran bersama.
- Penulis: Sandi


