BOGORPLUS.ID - Monumen Tugu Soeharto yang berlokasi di Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, kini dikenal menyimpan narasi kultural yang kuat di kalangan masyarakat setempat. Tempat ini diyakini oleh warga sebagai lokasi strategis tempat Presiden ke-2 RI, Soeharto, pernah bersembunyi saat bertugas di Kodam IV/Diponegoro.
Kisah lisan mengenai keberadaan Soeharto di kawasan yang disebut Tempuran, yaitu titik pertemuan dua aliran sungai, ini telah lama beredar luas di tengah komunitas lokal. Namun, perlu digarisbawahi bahwa narasi ini baru sebatas penuturan turun-temurun dan belum didukung oleh dokumen sejarah resmi yang valid.
Dr. Tsabit Azinar Ahmad, seorang pakar sejarah dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), membenarkan adanya cerita populer tersebut yang telah mengakar kuat. Ia menyatakan bahwa validitas historis dari kisah pelarian ini masih memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui penelusuran arsip.
"Tugu Soeharto itu sejarahnya berkaitan dengan tempat yang dulu pernah digunakan oleh Soeharto ketika dalam kejaran Belanda. Tetapi sumbernya masih cerita-cerita lisan yang berkembang di masyarakat," kata Tsabit kepada detikJateng, Kamis (11/6/2026).
Beberapa versi cerita yang beredar di masyarakat mengaitkan peristiwa pelarian ini dengan periode Agresi Militer Belanda yang terjadi pada tahun 1948. Meskipun demikian, kepastian mengenai rentang waktu spesifik kejadian tersebut masih memerlukan pembuktian melalui dokumen sejarah.
"Ada yang bilang waktu Agresi Militer 1948. Bisa saja benar karena Pak Harto cukup lama bertugas di Jawa Tengah, tetapi secara sejarah ini masih perlu pembuktian," ujarnya.
Menurut penjelasan Dr. Tsabit, keyakinan masyarakat terhadap kisah heroik ini memberikan dimensi emosional dan simbolis yang mendalam pada kawasan Kali Tempuran tersebut. Tempat tersebut menjadi sakral karena pernah menjadi lokasi penyelamatan seorang tokoh besar negara.
"Ketika masyarakat meyakini pernah digunakan oleh tokoh besar dan kemudian tokoh itu selamat, maka tempat tersebut dianggap memiliki makna historis dan simbolis," jelasnya.
Kesaksian mengenai asal-usul monumen ini juga disampaikan oleh Supriyanto (56), warga lokal yang telah lama bermukim di sekitar area monumen tersebut. Ia menceritakan bahwa berdasarkan penuturan para sesepuh, Soeharto berhasil menghindari musuh dengan berlindung di antara bebatuan sungai.






.png)