bogorplus.id - Kentang telah lama menjadi alternatif sumber karbohidrat populer selain nasi bagi masyarakat Indonesia. Selain mengenyangkan, umbi-umbian ini kaya akan nutrisi penting seperti vitamin B1, B3, B5, B6, vitamin C, serta mineral berupa kalium, fosfor, mangan, magnesium, dan zat besi. Namun, perdebatan mengenai cara penyimpanan yang tepat, terutama di dalam lemari es, sering kali memicu kekhawatiran terkait kualitas nutrisi dan risiko kesehatan.
Selama bertahun-tahun, muncul imbauan untuk tidak menyimpan kentang di dalam kulkas. Alasan utamanya adalah suhu dingin dapat memicu proses alami yang mengubah pati dalam kentang menjadi gula. Perubahan ini dikhawatirkan akan memicu pembentukan akrilamida, sebuah senyawa kimia yang muncul saat kentang dimasak pada suhu tinggi, seperti digoreng atau dipanggang.
Badan Standar Pangan Inggris (FSA) sebelumnya memperingatkan bahwa gula yang terbentuk akibat suhu dingin akan bereaksi dengan asam amino asparagin saat dipanaskan. Reaksi ini menghasilkan akrilamida yang dianggap berpotensi membahayakan kesehatan. Senada dengan hal tersebut, pakar kesehatan Dr. Eric Berg melalui kanal YouTube-nya menjelaskan bahwa akrilamida biasanya muncul pada makanan berkarbohidrat tinggi yang diolah dengan suhu di atas 248°F.
Meski National Institutes of Health (NIH) mencatat bahwa akrilamida dapat ditemukan pada kentang goreng, keripik, hingga kopi, lembaga tersebut menyatakan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan secara detail apakah kadar akrilamida dalam makanan tersebut secara langsung memicu kanker pada manusia.
Namun, terdapat perkembangan terbaru terkait aturan penyimpanan ini. FSA secara resmi telah mencabut larangan menyimpan kentang di dalam kulkas pada awal tahun ini. Berdasarkan studi terbaru yang ditinjau oleh Komite Toksisitas (COT), penyimpanan kentang di lemari es terbukti tidak meningkatkan potensi pembentukan akrilamida secara signifikan dibandingkan penyimpanan di suhu ruang.
Sebaliknya, FSA kini menyarankan penyimpanan di kulkas sebagai salah satu cara untuk memperpanjang masa simpan kentang dan mengurangi limbah makanan. Dengan suhu yang terkontrol, proses pembusukan dapat dihambat lebih efektif.
Bagi konsumen yang tetap ingin waspada, ahli gizi Vegan Wyles menyarankan teknik pengolahan yang tepat untuk meminimalisir risiko. Merendam kentang dalam air selama 30 menit sebelum digoreng dapat membantu mengurangi kadar pati dan asparagin. Selain itu, mengonsumsi sayuran silangan seperti brokoli dan kol juga disarankan untuk membantu menyeimbangkan asupan nutrisi tubuh.
Sebagai alternatif, masyarakat tetap dapat menyimpan kentang di tempat yang sejuk, kering, dan gelap jika tidak ingin menggunakan lemari es. Hal terpenting adalah memastikan kentang tidak terpapar cahaya matahari langsung yang dapat menyebabkan pertumbuhan tunas dan perubahan warna menjadi hijau.

