Bayi Panda Raksasa Lahir di Bogor, Indonesia Torehkan Sejarah Konservasi Dunia
- account_circle Putri
- calendar_month Rab, 7 Jan 2026
- comment 0 komentar

Foto: Kementerian Kehutanan
bogorplus.id – Seekor bayi pada lahir di lereng Gunung Pangrango, Bogor, Jawa Barat. Kelahiran panda ini menjadi satu-satunya kelahiran panda raksasa di luar negeri Tiongkok selama tahun 2025.
Bayi panda yang lucu ini dilahirkan pada 27 November 2025. Di balik momen bersejarah ini, terdapat proses Panjang yang melibatkan kerjasama antar negara.
Indonesia dan China membangun kolaborasi alam konservasi melalui Taman Safari Indonesia Group (TSI) Bersama dengan China Conservation and Research Center for the Giant Panda (CCRCGP). Program ini dilaksanakan dengan menggunakan metode ilmiah yang disebut Assisted Reprodictive Technology (ART), sebuah pendekatan berbasis sains yang membantu dalam reproduksi panda raksasa dengan sukses.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebutkan bahwa kelahiran panda ini memiliki arti yang lebih dalam daripada hanya sebagai kelahiran hewan langka.
“Tetapi menjadi bukti nyata kerja sama diplomasi lingkungan dan kolaborasi ilmiah internasional yang telah dibangun secara berkelanjutan antara Indonesia dan China,” kata Menhut Toni.
Ia juga menggarisbawahi bahwa kelahiran bayi panda ini merupakan hasil dari komitmen yang berkelanjutan dari tiga presiden Indonesia, mulai dari Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, hingga Prabowo Subianto. Karenanya, program ini bukanlah suatu inisiatif sementara melainkan kerjasama lintas generasi.
Jansen Manansang, Co-Founder Taman Safari Indonesia Group dan pencetus program konservasi panda di Indonesia, mengungkapkan rasa bangganya terhadap pencapaian ini. Ia menilai keberhasilan ini menunjukan bahwa Indonesia tidak hanya ikut-ikutan dalam usaha konservasi global.
Ia berpendapat bahwa pencapaian ini mempertegas komitmen Indonesia dalam menjaga keberadaan pada raksasa di seluruh dunia, serta menunjukkan bahwa TSI menerapkan pendekatan ilmiah yang konsisten, disiplin dalam jangka panjang, dan standar kesejahteraan satwa yang diakui secara internasional.
Secara global, kelahiran bayi panda ini menjadikan Indonesia sebagai mitra aktif dalam pelestarian panda, khususnya di wilayah ASEAN. Indonesia kini bukan lagi sebagai penonton, tetapi sudah beralih menjadi bagian dari para pelaku utama.
Peran negara terlihat jelas Ketika memberikan nama kepada bayi panda, yang kemudian disebut Satrio Wiratama, atau Li Ao dalam bahasa Mandarin. Nama ini bukan simbolik, tetapi juga mencerminkan kerjasama konservasi antara Indonesia dan Tiongkok, serta menyampaikan pesan bahwa pembangunan dan perlindungan lingkungan harus berjalan bersama.
“Keberhasilan ini merupakan hasil kerja tim lintas disiplin, mulai dari dokter hewan, perawat satwa, peneliti, hingga mitra internasional. Fokus kami bukan hanya pada kelahiran, tetapi memastikan setiap tahapan dijalankan secara bertanggung jawab,” ujar Esther Manansang, Direktur Operasional dan Life Science Taman Safari Indonesia Group.
Ke depan, TSI berharap momen bersejarah ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa konservasi bukan hanya tentang daya tarik visual hewan, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang untuk keberlanjutan bangsa dan planet kita.
- Penulis: Putri


